Sepintas tentang Arsip Privat (Resume General Lecture:”Colonial (Private) Archives in Indonesia: A Cold Mine for (Dutch) Historians)

Posted: September 21, 2015 in Bincang Arsip, Uncategorized

Jamak diketahui jika kita berbicara tentang arsip dan kearsipan, maka pandangan kita akan mengerucut pada arsip pemerintahan dan/atau perusahaan. Arsip = surat, adalah mainstream yang melekat kuat hingga saat ini. Namun ketika disebutkan arsip lukisan, diary, genealogi, imigrasi, tidak sedikit dari kita, yang pernah bersentuhan dengan kearsipan, yang mengerutkan dahi, apa iya semua itu disebut arsip? Apakah arsip hanya ada di lingkungan pemerintahan dan perusahaan? Pemahaman ini yang coba diperluas oleh Prodi Kearsipan dengan mendatangkan sejarawan dari Belanda dalam sebuah kuliah umum.

Secara singkat dapat saya jelaskan bahwa arsip tidak hanya ada di lingkungan pe

Jpeg

Mrs. Maaike dalam pemaparannya.

merintahan dan perusahaan, tetapi juga di tingkat yayasan,organisasi kemasyarakatan atau ormas, sampai pada komunitas dan individu. Definisi arsip dalam perundang-undangan pun menyebutkan dengan gamblang bahwa arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Maka jelaslah bahwa arsip tidak seharusnya dipahami dan dipelajari secara menyempit hanya di tataran pemerintahan dan perusahaan, tetapi juga mereka yang ada di skup yayasan, ormas, dan lain-lain. Menurut Maaike, narasumber yang diundang, arsip-arsip yang ia teliti sebagai sumber primer dalam riset PhDnya, belum banyak ditangani secara profesional. Perlu diketahui bahwa arsip-arsip yang diteliti oleh Maaike adalah arsip-arsip keagamaan pada masa kolonial Belanda, yang banyak disimpan di gereja-gereja yang tersebar di Jawa Tengah dan DIY. Hal inilah yang seharusnya menjadi suatu pandangan baru bagi calon-calon ahli madya kearsipan dan pemerhati arsip untuk menggali dan memahami lebih dalam tentang arsip-arsip privat, salah satunya arsip keagamaan, dalam konteks manajemen kearsipan. Pengalaman yang disampaikan Maaike juga mengingatkan saya terkait pengalaman pribadi menemani tim akuisisi ANRI yang hendak mengakuisisi arsip-arsip milik ormas Muhammadiyah, sekitar satu tahun lalu. Diakui oleh Maaike bahwa akses untuk arsip-arsip private milik yayasan memang terbilang sulit, apalagi ditambah dengan akses arsip kolonial di lembaga kearsipan nasional, baik di Belanda maupun Indonesia yang terbilang berbelit-belit. Oleh karena itu, apabila arsip-arsip privat yang bernilai kesejarahan dan masih disimpan oleh yayasan, ormas, maupun komunitas, dapat dikelola dengan profesional, bukan tidak mungkin akan melahirkan informasi-informasi menarik yang belum banyak diketahui oleh publik. Selain juga menambah variasi penulisan sejarah kolonial dari perspektif yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya.

Penggalian arsip-arsip privat dalam konteks manajemen kearsipan, dalam pengamatan pribadi saat melihat daftar tugas akhir mahasiswa, memang belum banyak diminati. Semoga dengan adanya kuliah umum ini akan menjadi pemantik bagi teman-teman mahasiswa, terutama mahasiswa kearsipan, untuk mempelajari dan menggali manajemen kearsipan untuk arsip-arsip privat, utamanya di yayasan maupun organisasi kemasyarakatan. Hal ini juga mengingat semakin menjamurnya yayasan, komunitas, dan sejenisnya yang mulai mengambil peran-peran sejarah dalam memperbaiki kondisi masyarakat. Perlu kiranya untuk mengetahui perkembangan dan peran organisasi-organisasi tersebut, dan sumber yang mampu menjawabnya, salah satunya adalah arsip.

Semoga yang sedikit ini dapat memberikan gambaran singkat terkait kuliah umum yang diselenggarakan oleh Prodi D3 Kearsipan Sekolah Vokasi UGM.

Iklan
Komentar
  1. kang pardi berkata:

    iya ya, sebatas pengetahuan saya, selama ini anri dalam akuisisinya hanya terbatas pada lemabaga pemerintahan, swasta dan ormas yg besar. kurang atau bahkan belum menjamah pada yayasan keagamaan, khususnya pada era kolonial. ini patut menjadi perhatian, khususnya anri.
    jazakallah atas pencerahannya. dan pasti menarik ya saat menikuti kuliah umum ini.

    • mozaikarsip berkata:

      sbnerny gak harus anri pak. tpi bgmn anri bs berkolaborasi dg komunitas2 spya ikt andil mengelola arsip.sy gak spakat mlh klo smwany dimonopoli anri.hehe

      • kang pardi berkata:

        memang, namun pada kenyataannya seperti itu, lagi-lagi soal payung hukum. yang berhak mengelola dan menyimpan arsip statis entah itu bernilai sejarah atau mempunyai arti bagi kepentingan nasional, hanya ANRI. mungkin tujuannya agar tersentral demi kemudahan bagi user (peneliti, sejarawan, mahasiswa, dst.).

      • mozaikarsip berkata:

        sentralisasi yg brujung pd birokratisasi yg sygny justru mmpersulit user.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s