SUMBER KEKUATAN HISTORIOGRAFI SENI KONTEMPORER

Posted: Maret 12, 2016 in Bincang Arsip, Mozaik Opini, Uncategorized

Bulan Maret selalu identik dengan dua peristiwa yang menandai babak baru dalam sejarah Indonesia. Pertama, peringatan 1 Maret atau Serangan Umum 1 Maret. Peristiwa bersejarah yang oleh Orde Baru dikemas dalam karya seni berupa film “Janur Kuning”. Kedua, pada tanggal 11 Maret terkait dengan peristiwa munculnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Sebuah surat perintah yang menandai peralihan zaman, dari Orde Lama kepada Orde Baru. Surat perintah yang, dalam historiografi Orde Baru, diawali suatu kudeta berdarah oleh PKI pada tahun 1965. Untuk memperingati peristiwa tersebut, pemerintah Orde Baru pun menelurkan buah karya seni film “Pengkhianatan G 30 S PKI”. Seni, dari kedua peristiwa bersejarah tersebut, dimanfaatkan oleh pemerintah Orde Baru untuk memperkuat penulisan sejarah versinya sendiri. Dua karya seni berupa film tersebut, meski telah diarsipkan, juga menjadi sumber kekuatan bagi historiografi seni kontemporer.
Historiografi seni merupakan sesuatu hal yang belum banyak menjadi diskursus, bahkan di kalangan akademisi sejarah maupun kesenian. Secara sederhana, mengutip Prof. Agus Burhan, fungsi historiografi seni adalah sebagai pergulatan identitas keindonesiaan, instrument penerus nilai dan pengetahuan, dan legitimasi pencapaian seniman serta para patronnya. Sumber-sumber penulisan sejarah seni yang melimpah belum mampu menggairahkan akademisi untuk mengulik historiografi seni kontemporer. Permasalahan tersebut sejatinya juga menjadi pekerjaan rumah bagi akademisi kearsipan. Fokus utamanya adalah pada pelestarian dan diseminasi inventarisasi arsip karya seni secara apik dan menarik.
Karya seni sebagai arsip merupakan sesuatu yang belum banyak dipahami oleh akademisi dan praktisi kearsipan Indonesia. Sebagian besar akademisi dan praktisi kearsipan konservatif mengkategorikan karya seni hanya sebatas koleksi museum dan galeri seni. Karya seni tidak dapat dikatakan sebagai arsip, baik karya lukis, tari, film, dan sebagainya. Padahal, karya seni sebagai arsip telah lama menjadi diskursus bidang kearsipan Internasional. John Shepard, dalam sebuah artikel yang dimuat Fontes Artis Musicae pada tahun 2011 berjudul “Preserve: Teaching Archives To Dance Companies”, memaparkan urgensi pelestarian arsip seni dansa Amerika Serikat. Proyek pelestarian arsip seni dansa tersebut dilatar belakangi oleh minimnya dokumentasi sebagai instrument penerus pengetahuan mengenai seni dansa Amerika Serikat. Filip van Dingenen, seniman visual dalam artikel berjudul “Flota Nfumu: Rethinking Art, Archives, and Pedagogy in the Case of Copito de Nieve” memberikan gambaran bagaimana arsip lukisan anak-anak dari dua negara berbeda tentang gorila langka menjadi instrument pengajaran di sekolah-sekolah.

Pelestarian dan pemanfaatan arsip karya seni sejatinya telah dilakukan di Indonesia oleh komunitas-komunitas seni dan beberapa seniman. Kerja-kerja pengarsipan yang dilakukan komunitas seni maupun seniman sebagai individu, salah satunya didokumentasikan dalam buku “Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia”. Buku tersebut menjadi karya pertama yang membedah kearsipan dari sudut pandang yang jauh berbeda dari konsep konservatif yang selama ini dipahami. Hal yang menarik dari review buku tersebut adalah kelangkaan fisik arsip di bidang seni tari, musik, dan film. Dampaknya, banyak akademisi yang kesulitan mencari sumber pendukung dalam kerja-kerja ilmiah terkait bidang seni tersebut, termasuk pembuatan historiografi seni kontemporer. Permasalahan sama yang juga ditegaskan oleh Prof. Agus Burhan dalam pidato pengukuhan guru besar pada bulan Februari lalu. Arsipalego juga memuat beberapa kisah pelestarian arsip karya seni yang kerap mendapat masalah sokongan finansial. Pemahaman sempit ala Orde baru bahwa arsip adalah naskah, produk samping administrasi, dan hanya dikelola oleh lembaga kearsipan milik pemerintah masih mengakar kuat. Imbasnya, upaya pelestarian arsip yang dilakukan dalam skala komunitas maupun individu tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan upaya sungguh-sungguh dalam menata ulang pemahaman mengenai arsip. Harapannya, arsip karya seni mampu menjadi sumber kekuatan para sejarawan seni Indonesia ketika bercerita tentang kerja-kerja seni kontemporer anak bangsa di kancah internasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s