AMBANG KEPUNAHAN MANUSKRIP NUSANTARA

Posted: Desember 13, 2016 in Bincang Arsip, Mozaik Hikmah, Mozaik Opini, Uncategorized

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Kabar tidak menyenangkan kembali datang dari dunia dokumentasi nusantara. Beberapa waktu lalu pemberitaan tentang keberadaan manuskrip-manuskrip kuno Keraton Yogyakarta yang banyak disimpan di Inggris menghiasi berbagai surat kabar nasional. Pada 1 Juni lalu, KR memberitakan tentang musnahnya ratusan manuskrip kuno milik Rekso Pustoko Mangkunegaran. Kabar tersebut seharusnya membuat Indonesia semakin prihatin dengan eksistensi manuskrip kuno yang menyimpan ragam tradisi budaya nusantara. Warisan budaya nusantara berupa manuskrip berada diambang kepunahan. Akibat jangka panjangnya adalah generasi muda semakin bimbang memahami budaya khas nusantara. Suatu upaya diperlukan untuk menyelamatkan keberadaan manuskrip-manuskrip kuno tersebut.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (Barpusda) Provinsi Jawa Tengah, merupakan pihak pertama yang seharusnya tanggap melihat fenomena tersebut. Langkah nyata yang dapat dilakukan Barpusda Jateng adalah pengiriman tenaga profesional dan kompeten di bidang preservasi dan konservasi. Barpusda Jateng dapat bersinergi dengan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI) dalam mempercepat alih media manuskrip yang telah diperbaiki. Selain dengan pihak lokal, Barpusda Jateng dapat berkolaborasi dengan institusi di negara-negara tertentu yang memiliki sarana dan prasarana alih media manuskrip kuno berteknologi mutakhir. Bantuan sarana dan prasarana dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupa komputer juga diperlukan sebagai upaya mempermudah akses manuskrip hasil alih media.

Pasca penyelamatan fisik, upaya pemanfaatan manuskrip kuno juga perlu ditingkatkan. Kalangan akademisi dan budayawan merupakan pengguna potensial dalam meningkatkan nilai guna manuskrip-manuskrip tersebut. Dalam hal ini, upaya Rekso Pustoko untuk bersinergi dengan perguruan-perguruan tinggi dan komunitas-komunitas budaya perlu diwujudkan. Namun pada akhirnya, upaya untuk merangkul publik lebih luas juga perlu diupayakan agar publik mengetahui manfaat dari manuskrip-manuskrip tersebut.

Adanya sinergi antar berbagai pihak tersebut diharapkan mampu menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersisa, terutama di Rekso Pustoko Mangkunegaran. Bukan pekerjaan mudah, memang. Apalagi jika pihak Keraton Mangkunegaran masih belum memiliki kesadaran urgensi perawatan manuskrip kuno. Ada celetukan menarik dari kolega-kolega sejarawan bahwa manuskrip-manuskrip kuno tersebut disakralkan oleh pihak keraton. Akibatnya, manuskrip-manuskrip tersebut tidak tersentuh tangan dingin preservator. Salah kaprah tersebut seharusnya mampu diminimalisasi apabila para pengampu kebijakan bersedia bermusyawarah untuk meluruskan logika tersebut. Jika dibiarkan, sekitar 25.000an manuskrip lainnya tengah menunggu kepunahan termakan usia dan mitos belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s