MELACAK DAN MENAFSIRKAN JEJAK GERHANA

Posted: Desember 13, 2016 in Bincang Arsip, Mozaik Hikmah, Mozaik Opini, Uncategorized

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Euforia fenomena langka gerhana matahari mulai meredup. Fenomena alam tersebut meninggalkan jejak dalam berbagai rupa. Jejak gerhana dalam berbagai rupa tersebut direkam dalam berbagai media untuk kemudian diarsipkan. Salah satu media massa nasional memberitakan bahwa rekam jejak gerhana di nusantara masih terbilang langka. Dalam sebuah liputan menyebutkan bahwa catatan fenomena gerhana di nusantara yang berhasil ditemukan berupa arca. Adapun rekam jejak berupa naskah tertulis atau manuskrip hampir dikatakan belum berhasil dilacak. Selain minimnya rekam jejak gerhana, catatan penafsiran mengenai media rekam tersebut pun masih terbilang sedikit. Maka menjadi wajar apabila fenomena gerhana di Indonesia lebih didominasi penafsiran mitos dibandingkan hasil nalar ilmiah.

Pelacakan jejak gerhana dalam konteks nalar ilmiah dapat dimulai dari karya penelitian dan/atau pengamatan fenomena gerhana. Hasil penelitian fenomena gerhana umum disimpan oleh organisasi atau komunitas yang bergerak di bidang astronomi, misalnya LAPAN dan NASA. Karya penelitian merupakan aset vital yang wajib dikelola sesuai standar pengelolaan dokumen penelitian, baik nasional maupun internasional. Peter Doorn dan Heiko Tjaisma dalam Introduction: Archiving Research Data menekankan bahwa pengelolaan karya penelitian harus dibedakan dengan jenis dokumen lainnya. Hal ini karena karya penelitian tidak hanya menjadi sumber rujukan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi memiliki kekuatan hak paten. Pengelolaan dokumen karya penelitian sesuai standar menjadi salah satu upaya memerangi kegiatan plagiasi di dunia akademik.

Untuk memudahkan pengelolaan dokumen karya penelitian, beberapa organisasi menerapkan sistem otomasi atau komputerisasi pengelolaan dokumen. Upaya tersebut juga sebagai jawaban terhadap tuntutan kemudahan akses dan diseminasi karya tanpa perlu datang ke lokasi penyimpanan dokumen. Komputerisasi pun bukan tanpa masalah. Seamus Ross menekankan tiga hal yang perlu diwaspadai dalam komputerisasi, yaitu aspek legalitas, perlindungan keamanan data, dan perlindungan hak paten. Ketiga hal tersebut pun masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia yang memiliki angka plagiasi cukup tinggi. Selain itu, komputerisasi dalam bidang dokumentasi kerap hanya dijadikan sebagai agenda proyek minim tindak lanjut. Para pengelola dokumen karya penelitian hanya berhenti pada kegiatan penyimpanan dan diseminasi formal (katalog dan kanon). Padahal diseminasi formal seringkali tidak banyak membantu tersampaikannya makna karya penelitian kepada publik secara luas. Kebutuhan untuk mempopulerkan bahasa karya penelitian pun menjadi tanggung jawab bersama, termasuk para pengelola dokumen karya penelitian.

Pengelolaan dokumen karya penelitian sesuai standar merupakan upaya nyata memberikan kekuatan pelacakan jejak gerhana berbasis nalar ilmiah. Setelah dilacak, karya penelitian pun wajib didiseminasikan dengan bahasa populer. Kedua upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat penelitian di Indonesia yang dinilai masih rendah. Juga membantu publik untuk memahami fenomena-fenomena alam tidak hanya berdasarkan mitos, tetapi berbasis nalar ilmiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s