Archive for the ‘Mozaik Hikmah’ Category

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Kabar tidak menyenangkan kembali datang dari dunia dokumentasi nusantara. Beberapa waktu lalu pemberitaan tentang keberadaan manuskrip-manuskrip kuno Keraton Yogyakarta yang banyak disimpan di Inggris menghiasi berbagai surat kabar nasional. Pada 1 Juni lalu, KR memberitakan tentang musnahnya ratusan manuskrip kuno milik Rekso Pustoko Mangkunegaran. Kabar tersebut seharusnya membuat Indonesia semakin prihatin dengan eksistensi manuskrip kuno yang menyimpan ragam tradisi budaya nusantara. Warisan budaya nusantara berupa manuskrip berada diambang kepunahan. Akibat jangka panjangnya adalah generasi muda semakin bimbang memahami budaya khas nusantara. Suatu upaya diperlukan untuk menyelamatkan keberadaan manuskrip-manuskrip kuno tersebut.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (Barpusda) Provinsi Jawa Tengah, merupakan pihak pertama yang seharusnya tanggap melihat fenomena tersebut. Langkah nyata yang dapat dilakukan Barpusda Jateng adalah pengiriman tenaga profesional dan kompeten di bidang preservasi dan konservasi. Barpusda Jateng dapat bersinergi dengan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI) dalam mempercepat alih media manuskrip yang telah diperbaiki. Selain dengan pihak lokal, Barpusda Jateng dapat berkolaborasi dengan institusi di negara-negara tertentu yang memiliki sarana dan prasarana alih media manuskrip kuno berteknologi mutakhir. Bantuan sarana dan prasarana dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupa komputer juga diperlukan sebagai upaya mempermudah akses manuskrip hasil alih media.

Pasca penyelamatan fisik, upaya pemanfaatan manuskrip kuno juga perlu ditingkatkan. Kalangan akademisi dan budayawan merupakan pengguna potensial dalam meningkatkan nilai guna manuskrip-manuskrip tersebut. Dalam hal ini, upaya Rekso Pustoko untuk bersinergi dengan perguruan-perguruan tinggi dan komunitas-komunitas budaya perlu diwujudkan. Namun pada akhirnya, upaya untuk merangkul publik lebih luas juga perlu diupayakan agar publik mengetahui manfaat dari manuskrip-manuskrip tersebut.

Adanya sinergi antar berbagai pihak tersebut diharapkan mampu menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersisa, terutama di Rekso Pustoko Mangkunegaran. Bukan pekerjaan mudah, memang. Apalagi jika pihak Keraton Mangkunegaran masih belum memiliki kesadaran urgensi perawatan manuskrip kuno. Ada celetukan menarik dari kolega-kolega sejarawan bahwa manuskrip-manuskrip kuno tersebut disakralkan oleh pihak keraton. Akibatnya, manuskrip-manuskrip tersebut tidak tersentuh tangan dingin preservator. Salah kaprah tersebut seharusnya mampu diminimalisasi apabila para pengampu kebijakan bersedia bermusyawarah untuk meluruskan logika tersebut. Jika dibiarkan, sekitar 25.000an manuskrip lainnya tengah menunggu kepunahan termakan usia dan mitos belaka.

Iklan

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Yogyakarta, di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), merupakan salah satu kota dengan industri wisata potensial di Indonesia. Keunikan budaya tradisional yang dikemas secara modern menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Perkembangan industri wisata yang sedemikian pesat memicu pertumbuhan bisnis penginapan dan industri ritel modern. Yogyakarta, selain memiliki potensi di sektor pariwisata, ternyata memiliki banyak industri lokal yang sempat berjaya di masanya. Ragam industri lokal di Yogyakarta tersebut menjadi suguhan utama dalam Pameran Arsip 2016 yang diselenggarakan oleh Prodi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM pada 13-15 Mei lalu. Pameran yang bertajuk “Menyingkap Arsip Industri di Yogyakarta” mengenalkan beberapa sektor industri lokal unggulan Yogyakarta, seperti industri logam/besi, industry kulit, industry batik, industry cerutu, dan industry gula.

Suguhan pameran arsip bertemakan industry merupakan salah satu upaya nyata bidang kearsipan untuk memberikan fondasi kebijakan pengembangan sektor industry daerah. Era MEA memang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menggeber produk-produk asli unggulan. Produk-produk asli Indonesia dominan digarap oleh para pelaku industry lokal yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Yogyakarta. Keberadaan para pelaku lokal tersebut, sayangnya, kerap tergeser perannya oleh pelaku industry yang memiliki modal besar dan jaringannya yang luas. Belum lagi dengan regulasi daerah yang sering menyulitkan industry-industri lokal untuk go internasional. Sajian arsip-arsip industry lokal di Yogyakarta diharapkan mampu membantu para pemangku kepentingan untuk dapat membangkitkan kejayaan industry-industri lokal yang pernah menjadi ikon Yogyakarta. Selain itu, arsip-arsip industry tersebut juga menjadi media efektif bagi investor, terutama investor asing, untuk dapat mengenal lebih dekat daerah tujuan investasinya. Pengenalan daerah investasi secara komprehensif juga dapat mengurangi dampak gesekan sosial dengan masyarakat setempat. Dengan demikian, para investor mampu berperan aktif dan bersinergi dengan masyarakat lokal dalam menumbuhkan pundi-pundi ekonomi yang saling menguntungkan.

Arsip sektor industry tak sekedar berbicara dinamika di satu sektor, tetapi pengaruh keberadaan suatu industry lokal terhadap sektor lain. Prof. Aiko Kurasawa dalam Masyarakat dan Perang Asia Timur Raya: Sejarah dengan Foto yang Tak Terceritakan juga berkisah tentang beberapa industry yang menjadi pendukung Jepang dalam menginvasi beberapa negara di Asia jelang Perang Dunia II. Keberadaan industry cetak, Ashashi Shinbun misalnya, menjadi modal utama Jepang untuk menyebarkan propagandanya melalui surat kabar. Beberapa industry otomotif pun ikut serta dilibatkan. Tentu saja industry-industri tersebut merupakan industry lokal Jepang yang kelak menjadi industry raksasa dengan pangsa pasar global. Secara garis besar, informasi yang terekam dalam arsip industry-industri tersebut juga mencerminkan kondisi sosial politik pada masa Perang Asia Timur Raya. Dapat disimpulkan bahwa arsip merupakan modal utama dalam membangkitkan industry-industri lokal. Kebangkitan industry-industri lokal menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia siap menghadapi berbagai perubahan global dan siap menjadi salah satu negara tangguh di era MEA.

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Euforia fenomena langka gerhana matahari mulai meredup. Fenomena alam tersebut meninggalkan jejak dalam berbagai rupa. Jejak gerhana dalam berbagai rupa tersebut direkam dalam berbagai media untuk kemudian diarsipkan. Salah satu media massa nasional memberitakan bahwa rekam jejak gerhana di nusantara masih terbilang langka. Dalam sebuah liputan menyebutkan bahwa catatan fenomena gerhana di nusantara yang berhasil ditemukan berupa arca. Adapun rekam jejak berupa naskah tertulis atau manuskrip hampir dikatakan belum berhasil dilacak. Selain minimnya rekam jejak gerhana, catatan penafsiran mengenai media rekam tersebut pun masih terbilang sedikit. Maka menjadi wajar apabila fenomena gerhana di Indonesia lebih didominasi penafsiran mitos dibandingkan hasil nalar ilmiah.

Pelacakan jejak gerhana dalam konteks nalar ilmiah dapat dimulai dari karya penelitian dan/atau pengamatan fenomena gerhana. Hasil penelitian fenomena gerhana umum disimpan oleh organisasi atau komunitas yang bergerak di bidang astronomi, misalnya LAPAN dan NASA. Karya penelitian merupakan aset vital yang wajib dikelola sesuai standar pengelolaan dokumen penelitian, baik nasional maupun internasional. Peter Doorn dan Heiko Tjaisma dalam Introduction: Archiving Research Data menekankan bahwa pengelolaan karya penelitian harus dibedakan dengan jenis dokumen lainnya. Hal ini karena karya penelitian tidak hanya menjadi sumber rujukan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi memiliki kekuatan hak paten. Pengelolaan dokumen karya penelitian sesuai standar menjadi salah satu upaya memerangi kegiatan plagiasi di dunia akademik.

Untuk memudahkan pengelolaan dokumen karya penelitian, beberapa organisasi menerapkan sistem otomasi atau komputerisasi pengelolaan dokumen. Upaya tersebut juga sebagai jawaban terhadap tuntutan kemudahan akses dan diseminasi karya tanpa perlu datang ke lokasi penyimpanan dokumen. Komputerisasi pun bukan tanpa masalah. Seamus Ross menekankan tiga hal yang perlu diwaspadai dalam komputerisasi, yaitu aspek legalitas, perlindungan keamanan data, dan perlindungan hak paten. Ketiga hal tersebut pun masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia yang memiliki angka plagiasi cukup tinggi. Selain itu, komputerisasi dalam bidang dokumentasi kerap hanya dijadikan sebagai agenda proyek minim tindak lanjut. Para pengelola dokumen karya penelitian hanya berhenti pada kegiatan penyimpanan dan diseminasi formal (katalog dan kanon). Padahal diseminasi formal seringkali tidak banyak membantu tersampaikannya makna karya penelitian kepada publik secara luas. Kebutuhan untuk mempopulerkan bahasa karya penelitian pun menjadi tanggung jawab bersama, termasuk para pengelola dokumen karya penelitian.

Pengelolaan dokumen karya penelitian sesuai standar merupakan upaya nyata memberikan kekuatan pelacakan jejak gerhana berbasis nalar ilmiah. Setelah dilacak, karya penelitian pun wajib didiseminasikan dengan bahasa populer. Kedua upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat penelitian di Indonesia yang dinilai masih rendah. Juga membantu publik untuk memahami fenomena-fenomena alam tidak hanya berdasarkan mitos, tetapi berbasis nalar ilmiah.

“Ati-ati lho, nanti kamu di-jonru-kan”

Beberapa hari ini harian Kompas kerap mengangkat tema seputar informasi digital dan media sosial. Efektivitas media sosial beserta informasi maupun data yang dibagikan secara cuma-cuma menjadi fenomena yang menarik untuk didiskusikan. Media sosial saat ini tidak berhenti pada penggunaan privasi, tetapi juga memiliki pengaruh yang cukup efektif terhadap pengambilan kebijakan publik. Dalam pengetahuan penulis, pengaruh media sosial terhadap pengambilan kebijakan publik mulai terlihat saat akun Trio Macan 2000 semakin gencar membuka informasi yang dianggap “langka”. Keriuhan berlanjut jelang hingga pelaksanaan Pilpres tahun lalu. Perang tanding antar pendukung capres dapat kita saksikan hampir 24 jam setiap hari di media sosial. Berbagai data dan informasi menjadi senjata untuk saling mengklaim keunggulan masing-masing calon. Sebetulnya jika ditelusuri lebih detail, tidak sedikit akun di media sosial yang menyebarkan data dan informasi yang diragukan validitas, keabsahan, otentisitasnya. Apa yang dilakukan Jonru hanya sebagian kecil saja. Beberapa yang saya temukan bahkan enggan menyebutkan sumber resmi dari data dan informasi yang ia atau mereka catut. Hal inilah yang tidak banyak disadari oleh sebagian besar publik pengguna media sosial. Harian Kompas bahkan menyebutkan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia tentang perkembangan dan etika penggunaan media sosial masih belum memadai. Minimnya literasi media sosial diperparah dengan keengganan untuk menengok lebih cermat payung hukum soal informasi, seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik hingga Undang-Undang Kearsipan.

Persebaran data maupun informasi yang diragukan tersebut sebetulnya dapat diminimalisasi melalui pengetahuan dan pemahaman yang tepat terhadap pengelolaan arsip. Arsip merupakan salah satu bentuk rekaman informasi tentang kegiatan, kejadian apapun dari berbagai jenis organisasi (baik pemerintah maupun non-pemerintah) hingga individu yang menjadi rujukan primer dalam pengambilan kebijakan maupun aktivitas ilmiah. Dalam bidang kearsipan, informasi dipilah-pilih sehingga memiliki kekuatan dasar yang valid dan otentik bagi kepentingan pengguna. Pengelolaan arsip yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip kearsipan bermanfaat tidak hanya bagi organisasi dan individu pemilik arsip, tetapi juga bagi publik secara menyeluruh. Dalam pengelolaannya, arsip pada dasarnya bersifat terbuka, namun dapat dinyatakan tertutup aksesnya apabila pertimbangan-pertimbangan berikut terjadi:

1. menghambat proses penegakan hukum;

2. mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat;

3. membahayakan pertahanan dan keamanan negara;

4. mengungkapkan kekayaan alam Indonesia yang masuk dalam kategori dilindungi kerahasiannya;

5. merugikan ketahanan ekonomi nasional;

6. merugikan kepentingan politik dan hubungan luar negeri;

7. mengungkapkan isi akta autentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang kecuali kepada yang berhak secara hukum;

8. mengungkapkan rahasia atau data pribadi;

9. mengungkapkan memorandum atau surat-surat yang menurut sifatnya perlu dirahasiakan.

Keputusan untuk menutup akses terhadap arsip tersebut tentu memiliki batasan waktu yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Kebijakan untuk menutup akses arsip pun tidak dilakukan secara sepihak oleh lembaga kearsipan, tetapi juga atas dasar permintaan dari organisasi pemilik arsip. Misalnya dalam undang-undang kearsipan disebutkan:

Terhadap arsip statis yang dinyatakan tertutup berdasarkan persyaratan akses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64      ayat (3) atau karena sebab lain, kepala ANRI atau kepala lembaga kearsipan sesuai dengan lingkup kewenangannya dapat menyatakan arsip statis menjadi terbuka setelah melewati masa penyimpanan selama 25 (dua puluh lima) tahun.

Undang-undang yang mengatur soal keterbukaan informasi pun menyinggung tentang batas-batas penggunaan informasi. Sila cek ulasan singkat saya dalam Batas-Batas Keterbukaan Informasi Publik. Dengan demikian, bersikaplah bijak dan berpikirlah milyaran bahkan trilyunan kali ketika hendak berbagi data maupun informasi di media sosial. Sekali klik dapat menentukan hajat hidup orang banyak. Be wise, guys! 😀

Awal dan Akhir

Posted: Januari 6, 2015 in Mozaik Hikmah, Mozaik Rasa

Yang terlihat seperti akhir, namun sejatinya awal

Lama sudah saya tidak corat-coret blog. Kemalasan mengisi pulsa modem berimbas pada kemalasan menulis yang sempat menggerogoti tangan dan pikiran saya. Padahal kalau dibuat semacam daftar, ada banyak kejutan di penghujung tahun 2014 lalu. Mulai dari soal akademik, pilah-pilih calon pendamping sampai “sabotase” kos-kosan. Serangkaian kejutan itu, yang paling membekas bagi saya adalah soal “sabotase” kos-kosan. Sebuah istilah yang dicapkan bapak pemilik kos-kosan saya kepada anak-anak kosnya.

Sudah jadi rahasia umum bagi kami perihal kondisi fisik kos-kosan yang jarang disentuh perhatian. Bukan sama sekali tak diperhatikan, ada kali waktu dibenahi, namun tidak pernah total. Jika kos-kosan lain berpayah-payah mengikuti perkembangan kebutuhan anak muda, kos-kosan kami masih keukeuh mempertahankan “kesederhanaannya”. Pernah saya singgung soal makna “kesederhanaan” kos-kosan kami di tulisan sebelumnya. Lelah dengan kondisi sedemikian, ditambah dengan kebijakan baru yang dinilai mengabaikan suara-suara kami, diputuskanlah untuk hengkang. Berat memang, mengingat kami sudah seperti keluarga besar yang menanggung banyak hal bersama. Tapi bagaimanalah? Hanya menggantungkan harapan bahwa kelak beliau, pemilik kos lama kami, dibukakan hatinya untuk mengelola fisik kos jauh lebih baik setelah kami mengosongkannya.

Satu dua penghuni mulai pergi terhitung sejak awal desember lalu. Saya yang sempat berusaha menahan keinginan untuk pindah, mau tidak mau, terpaksa ikut juga. Mungkin karena hati sudah terikat padu, bahkan mencari lingkungan hunian baru pun kami seperti enggan berpencar, harus bersama paling tidak berdua. Walaupun akhirnya ada juga yang terpaksa sendiri. Sebagian memutuskan mencari kos baru, sebagian hendak mencoba hidup sebagai “kontraktor”.

Sepintas, pengosongan kos lama menjadi sebuah titik akhir kebersamaan kami dalam satu atap. Namun bagi saya, semua ini justru menjadi titik awal petualangan kami. Adaptasi, seringkali menjadi salah satu momok bagi sebagian kami. Sudah nyaman dengan lingkungan manusia yang seperti X, tapi takdir Tuhan berkata lain. “Semoga dengan berpisahnya fisik kalian, hati kalian akan semakin didekatkan satu sama lain”, doa ibu ketika saya bercerita duduk perkaranya. Semoga ya…

Kerja, Kerja, Kerja!

Posted: Oktober 29, 2014 in Mozaik Hikmah, Mozaik Rasa

Beberapa hari lalu, akhirnya Presiden baru kita, Pak Jokowi, mengumumkan para partner kerjanya untuk lima tahun ke depan. Kabinet Pak Jokowi cs diberi nama Kabinet Kerja. Banyak yang mengatakan kalau nama kabinet itu sesuai dengan kepribadian Pak Jokowi yang lebih mengedepankan kerja lapangan. Semoga saja mampu bekerja sesuai ekspektasi publik. Saya tidak akan membahas dan mengkritisi soal kabinet baru pemerintah kita. Apalagi memberikan penilaian soal komposisi partner kerja Pak Jokowi yang beberapanya sudah menjadi trending topik di berbagai sosial media. Bagi saya lebih baik melihat kinerja mereka lebih dulu. Soal hal-hal yang banyak diributkan itu, insya Allah bisa kita bantu perbaiki, toh para menteri sebagian besarnya sudah memberikan kontak pribadi mereka. Kita sudah diberi kesempatan untuk menyapa dan berdialog langsung dengan para menteri itu.

Kabinet kerja diumumkan tepat saat saya dan beberapa adik kos juga berhasil menyelesaikan kolam tempat sampah di area depan kos.  Dari segi kekuatan finansial dan sarana, kami memang serba dalam keterbatasan. Berulang kali menyampaikan keluhan kepada pemilik kos soal sampah yang hampir setiap hari “dibombardir” tikus, ditambah dengan bapak tukang sampah yang jarang datang, makin kacau saja kebersihan kos kami. Daripada kami hanya mengeluh saja dibelakang tanpa merealisasikan solusi yang paling mungkin dilaksanakan, lebih baik kami langsung kerja saja. Kami punya dana berapa, media apa yang tersedia, ada waktu luang kapan, kerjakan! Tanpa bekal pengalaman sebagai tukang bangunan, logika teknik sipil nol, ditambah dengan bekal hanya melihat para tukang bangunan mengaduk semen dan pasir, kami realisasikan rencana pembuatan kolam sampah. Butuh waktu seharian, itupun hanya dikerjakan tiga orang, termasuk saya. Tapi alhamdulillah sekarang sampah kos kami lebih bisa dikontrol.

Selesai dengan pembuatan kolam sampah kos, masalah lain datang. Soal manajemen keuangan yang ternyata tidak kalah kacau dengan manajemen APBN Indonesia. Bukan karena ketimpangan proporsi per bagian, tapi lebih pada pelaporan kepada pemilik kos. Si penanggung jawab keuangan kos kami ternyata tidak rutin melaporkan uang listrik bulanan, sampai menunggak 11 bulan. Kami tentu tidak bisa serta merta menyalahkan dia lantaran status kesibukannya sebagai atlit bridge yang sering membawa nama baik almamater. Baiklah daripada semakin tidak keruan, saya ambil alih manajemen keuangan dan menyerahkan kepada salah satu dari kami yang memang saya percaya dan yakin kemampuannya dalam mengelola banyak hal. Bersama kami memeriksa beberapa kejanggalan dalam pembukuan keuangan kos dan memutuskan beberapa hal penting agar kejadian serupa tidak terulang lagi ke depannya. Kami sudah macam anggota BPK dan KPK yang menelusuri transaksi keuangan.

Sejak saat itu, saya belajar banyak hal dari adik-adik kos saya. Tentang menjauhi NATO, tentang tanggung jawab, tentang filosofi kerja. Saya sadar, sebagai yang paling senior dalam hal usia, justru saya lebih banyak mengajarkan NATO kepada mereka. Melontarkan banyak isu dan ide tentang perbaikan kos, tapi begitu hendak direalisasikan, selalu menemui jalan buntu. Ada saja alasan, mulai dari keterbatasan dana dan waktu yang tidak match satu sama lain. Tapi hanya dengan dua orang ini saja, ternyata kami bisa merealisasikan hal-hal yang sebelumnya kami anggap sulit.

Terima kasih adik-adikku…

Aku tidak berharap kalian akan ingat tanggal berapa hari ini. Karna’ aku tahu, sebagian dari kalian amat menghindari pelajaran Sejarah lantaran harus berkutat dengan hafalan tanggal, tahun dan sederet nama tokoh. 🙂

Aku tidak berharap kalian akan ingat hari apa ini. Karna’ aku tahu, seperti juga berjuta-juta manusia yang sudah Tuhan berikan, ia akan datang, mengisi satu atau beberapa episode hidup kalian. Kemudian, atas kehendak-Nya, ia pun harus pergi sementara kalian juga harus berpindah ke episode lain yang sudah Tuhan siapkan. Dalam kurun waktu tertentu, kalian mungkin masih ingat yang pergi, namun dengan berlalunya masa, kalian pun harus belajar mengikhlaskan, kemudian melupakan yang telah pergi. Dengan demikian, kepala yang sudah terarah maju tidak terus-menerus menengok ke belakang. 🙂

Aku tidak berharap kalian akan ingat hari bersejarahku. Karna’ aku tahu, aku bukan deretan tokoh-tokoh penting yang punya kontribusi istimewa bagi dunia. Karyaku pun belum sepenuhnya ada dibandingkan kalian yang sudah melanglang buana hingga seberang pulau. 🙂

Namun, satu yang aku harap dari kalian, saudariku,

Di bumi manapun kalian berpijak

Di waktu kapanpun kalian bernafas

Ingatlah aku dalam setiap sujudmu

Ingatlah aku dalam untaian doa kudusmu

Karna’ aku berharap kita dapat membuat para syuhada dan nabi-nabi Allah Swt. iri tersebab cinta kita karena Allah Swt., tersebab persaudaraan kita yang hanya berharap barokah dan ridhoNya.

Maka, ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kaulimpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya. Maka, ya Allah, walau tak Kaukayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung hud-hud.

Maka, ya Allah, walau tak Kauberi kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa. Maka, ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka, ya Allah, walau keajaiban tak selalu menyertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka, ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan. Maka, ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin dan musibah, sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka, ya Allah, walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar dan Sarah; limpahi keluarga kami (kelak) dengan sakinah, mawaddah dan rahmah; dengan keturunan yang shalih serta shalihah. Maka, ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia (kelak) seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka, ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa. Maka, ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih sewarna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu pada-Mu semata hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka, ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al-Haq di depan tirani. Maka, ya Allah, walaupun kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi hati kami akhlaq pemimpin yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka, ya Allah, walau jangan sampai Kaukaruniai pasangan yang mirip Fir’aun (kelak), teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisi-Mu di dalam surga. Maka, ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihan-Mu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari. Maka, ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al-Hakim; tajamkan pikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka, ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan, (Ust. Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan)

Maka, saudariku, mohon maafkan atas segala khilaf, cela dan nista dari laku dan lisan di setiap perjumpaan.

Maka, saudariku, singkirkan ragu dan sungkanmu ketika melihat, mendengar dan merasakan adanya kedzaliman yang aku perbuat terhadapmu, ada hak-hakmu yang tak aku penuhi bahkan aku abaikan.

Terima kasih untuk segala bentuk pelajaran, hikmah dan penerimaan

Semoga Allah Swt., Yang Maha Rahman dan Rahiim lagi Maha Berkehendak, memperkenankan kita untuk berkumpul kembali dalam Jannah-Nya yang mulia.

Aamiin…aamiin..amin Ya Rabbal Alamiin…