Archive for the ‘Mozaik Rasa’ Category

Opini ini dibuat bukan untuk membela teman satu angkatan saya di salah satu kampus terkemuka di Indonesia tersebab kritiknya yang membuat sebagian dari civitas akademika menjadi gerah. Saya menulis hal ini karena tanggung jawab sebagai pribadi yang pernah nyemplung angangsu ilmu di bidang perpustakaan. Sedikit opini yang hanya bisa saya komunikasikan lewat tulisan untuk meluruskan perihal intangible service di perpustakaan kampus saya.

Berbicara soal perpustakaan kampus, maka yang terbesit pertama kali adalah kumpulan buku dan/atau terbitan berkala, sampai koleksi karya ilmiah berupa tugas-tugas akhir untuk perpustakaan perguruan tinggi. Maka sejatinya, perpustakaan kampus juga layak disebut sebagai center of learning. Perpustakaan kampus ini tidak hanya perpustakaan dalam skup universitas, atau di kampus saya disebutnya sebagai perpustakaan pusat. Menurut Pak Sulis, perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan jurusan, bagian, fakultas, universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, akademik maupun perpustakaan program non gelar. (Sulistyo-Basuki, 1993: 51). Sebagaimana kearsipan, ujung tombak penyelenggaraan perpustakaan ada pada bagian pelayanannya karena perpustakaan adalah sebentuk organisasi jasa layanan. Dalam salah satu tesis berjudul “Kinerja Perpustakaan Umum Terhadap Kepuasan Pemustaka” ditegaskan bahwa kinerja perpustakaan akan dikatakan baik apabila pelayanan perpustakaan berorientasi kepada kepuasan pemustakan baik itu pelayanan yang bersifat tangible service (koleksi, fasilitas, akses) maupun intangible service ( aspek psikis petugas pelayanan).

Dalam kasus teman satu angkatan saya, ia mengeluhkan soal kenyamanan fasilitas perpustakaan kampus yang bersifat intangible, yaitu aspek ketenangan. Jamak diketahui jika sudah masuk wilayah perpustakaan, maka etika yang harus diperhatikan adalah ketertiban. Memang tidak semua orang nyaman dengan kesunyian tempat belajar, maka tidak heran jika jarang ditemui orang yang bisa belajar berjam-jam lamanya di perpustakaan, belajar dengan model membaca buku, bukan berselancar di dunia maya ya ( 😀 ). Tidak sedikit juga perpustakaan yang memberikan peringatan “DILARANG RIBUT” atau “HARAP TENANG” di dalamnya. Mungkin karena tabiat negatif orang Indonesia yang sering membuat diskresi (kelonggaran) terhadap peraturan, jadilah peringatan tersebut kerap diabaikan. Saya sendiri sebetulnya baru sekali ini menemukan perpustakaan dengan tingkat “kebisingan” yang sudah cukup membuat mereka yang sedang belajar jadi hilang konsentrasi dan memilih sekedar meminjam buku saja. Saya tetap mengapresiasi petugas perpustakaan yang sudah berupaya memberikan peringatan di papan pengumuman di dalam perpustakaan. Namun akan lebih profesional lagi jika ditambahkan dengan sikap tegas petugas kepada pemustaka yang mengabaikan peringatan tersebut. Tegas tidak sama dengan galak ya ( 😀 ). Perpustakaan, sekecil apapun, apalagi perpustakaan kampus, tetaplah fasilitas publik. Maka perlu kiranya diperhatikan kepuasan pemustaka ketika berada di dalam perpustakaan, apakah mereka nyaman dengan kondisi perpustakaan sebagai center of learning atau justru sebaliknya. Perpustakaan harus mampu menciptakan para pemustaka yang puas terhadap layanan perpustakaan, terciptanya kepuasan pemustaka akan berdampak pada kunjungan perpustakaan karena pemustaka yang puas akan pelayanan perpustakaan, pemustaka akan balik lagi ke perpustakaan tersebut dan pemustaka yang puas akan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi perpustakaan (Shinta, 2014: 23)

Nah, soal teman sekelas saya yang sepertinya hingga saat ini masih agak kurang terima jika kritiknya menjadi sasaran bullying civitas akademika, toh ia pun sadar jika cara penyampaiannya ada kekeliruan. Dalam menyampaikan kritik, saran sebetulnya ada etika juga yang harus diperhatikan. Saya pribadi pernah merasakan ketidaknyamanan terhadap layanan yang diberikan oleh salah satu lembaga publik non-kementrian. Dongkol rasanya. Namun saya memilih cara untuk menyampaikan kritik saya kepada lembaga tersebut via e-mail resmi institusi dan upaya informal melalui rekan kerjanya. Alhamdulillah respon yang diberikan membuahkan hasil dengan dimutasinya pegawai tersebut ke bagian yang tidak secara langsung berhubungan dengan masyarakat. Beberapa waktu lalu saya sempat bertemu lagi dengan pegawai tersebut, dan alhamdulillah sudah ada perbaikan sikap. Semoga saja itu bukan karena faktor saya sebagai tamu undangan resmi yang sengaja diundang oleh kepala lembaganya ya ( 😀 )

Hampir semua dari kita cukup tertohok juga ketika menerima kritik. Apalagi kritik dengan rasa hot level 30, maka balasannya bisa jadi di atas level 30, agar terasa impas. Tapi sejatinya, kritik yang dibalas dengan kritik yang lebih keras justru tidak akan membuahkan peningkatan kinerja lembaga dan pribadi. Mungkin kita perlu belajar dari kasus saya dengan lembaga non-kementerian tadi ya bro.

Iklan

“Ati-ati lho, nanti kamu di-jonru-kan”

Beberapa hari ini harian Kompas kerap mengangkat tema seputar informasi digital dan media sosial. Efektivitas media sosial beserta informasi maupun data yang dibagikan secara cuma-cuma menjadi fenomena yang menarik untuk didiskusikan. Media sosial saat ini tidak berhenti pada penggunaan privasi, tetapi juga memiliki pengaruh yang cukup efektif terhadap pengambilan kebijakan publik. Dalam pengetahuan penulis, pengaruh media sosial terhadap pengambilan kebijakan publik mulai terlihat saat akun Trio Macan 2000 semakin gencar membuka informasi yang dianggap “langka”. Keriuhan berlanjut jelang hingga pelaksanaan Pilpres tahun lalu. Perang tanding antar pendukung capres dapat kita saksikan hampir 24 jam setiap hari di media sosial. Berbagai data dan informasi menjadi senjata untuk saling mengklaim keunggulan masing-masing calon. Sebetulnya jika ditelusuri lebih detail, tidak sedikit akun di media sosial yang menyebarkan data dan informasi yang diragukan validitas, keabsahan, otentisitasnya. Apa yang dilakukan Jonru hanya sebagian kecil saja. Beberapa yang saya temukan bahkan enggan menyebutkan sumber resmi dari data dan informasi yang ia atau mereka catut. Hal inilah yang tidak banyak disadari oleh sebagian besar publik pengguna media sosial. Harian Kompas bahkan menyebutkan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia tentang perkembangan dan etika penggunaan media sosial masih belum memadai. Minimnya literasi media sosial diperparah dengan keengganan untuk menengok lebih cermat payung hukum soal informasi, seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik hingga Undang-Undang Kearsipan.

Persebaran data maupun informasi yang diragukan tersebut sebetulnya dapat diminimalisasi melalui pengetahuan dan pemahaman yang tepat terhadap pengelolaan arsip. Arsip merupakan salah satu bentuk rekaman informasi tentang kegiatan, kejadian apapun dari berbagai jenis organisasi (baik pemerintah maupun non-pemerintah) hingga individu yang menjadi rujukan primer dalam pengambilan kebijakan maupun aktivitas ilmiah. Dalam bidang kearsipan, informasi dipilah-pilih sehingga memiliki kekuatan dasar yang valid dan otentik bagi kepentingan pengguna. Pengelolaan arsip yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip kearsipan bermanfaat tidak hanya bagi organisasi dan individu pemilik arsip, tetapi juga bagi publik secara menyeluruh. Dalam pengelolaannya, arsip pada dasarnya bersifat terbuka, namun dapat dinyatakan tertutup aksesnya apabila pertimbangan-pertimbangan berikut terjadi:

1. menghambat proses penegakan hukum;

2. mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat;

3. membahayakan pertahanan dan keamanan negara;

4. mengungkapkan kekayaan alam Indonesia yang masuk dalam kategori dilindungi kerahasiannya;

5. merugikan ketahanan ekonomi nasional;

6. merugikan kepentingan politik dan hubungan luar negeri;

7. mengungkapkan isi akta autentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang kecuali kepada yang berhak secara hukum;

8. mengungkapkan rahasia atau data pribadi;

9. mengungkapkan memorandum atau surat-surat yang menurut sifatnya perlu dirahasiakan.

Keputusan untuk menutup akses terhadap arsip tersebut tentu memiliki batasan waktu yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Kebijakan untuk menutup akses arsip pun tidak dilakukan secara sepihak oleh lembaga kearsipan, tetapi juga atas dasar permintaan dari organisasi pemilik arsip. Misalnya dalam undang-undang kearsipan disebutkan:

Terhadap arsip statis yang dinyatakan tertutup berdasarkan persyaratan akses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64      ayat (3) atau karena sebab lain, kepala ANRI atau kepala lembaga kearsipan sesuai dengan lingkup kewenangannya dapat menyatakan arsip statis menjadi terbuka setelah melewati masa penyimpanan selama 25 (dua puluh lima) tahun.

Undang-undang yang mengatur soal keterbukaan informasi pun menyinggung tentang batas-batas penggunaan informasi. Sila cek ulasan singkat saya dalam Batas-Batas Keterbukaan Informasi Publik. Dengan demikian, bersikaplah bijak dan berpikirlah milyaran bahkan trilyunan kali ketika hendak berbagi data maupun informasi di media sosial. Sekali klik dapat menentukan hajat hidup orang banyak. Be wise, guys! 😀

Awal dan Akhir

Posted: Januari 6, 2015 in Mozaik Hikmah, Mozaik Rasa

Yang terlihat seperti akhir, namun sejatinya awal

Lama sudah saya tidak corat-coret blog. Kemalasan mengisi pulsa modem berimbas pada kemalasan menulis yang sempat menggerogoti tangan dan pikiran saya. Padahal kalau dibuat semacam daftar, ada banyak kejutan di penghujung tahun 2014 lalu. Mulai dari soal akademik, pilah-pilih calon pendamping sampai “sabotase” kos-kosan. Serangkaian kejutan itu, yang paling membekas bagi saya adalah soal “sabotase” kos-kosan. Sebuah istilah yang dicapkan bapak pemilik kos-kosan saya kepada anak-anak kosnya.

Sudah jadi rahasia umum bagi kami perihal kondisi fisik kos-kosan yang jarang disentuh perhatian. Bukan sama sekali tak diperhatikan, ada kali waktu dibenahi, namun tidak pernah total. Jika kos-kosan lain berpayah-payah mengikuti perkembangan kebutuhan anak muda, kos-kosan kami masih keukeuh mempertahankan “kesederhanaannya”. Pernah saya singgung soal makna “kesederhanaan” kos-kosan kami di tulisan sebelumnya. Lelah dengan kondisi sedemikian, ditambah dengan kebijakan baru yang dinilai mengabaikan suara-suara kami, diputuskanlah untuk hengkang. Berat memang, mengingat kami sudah seperti keluarga besar yang menanggung banyak hal bersama. Tapi bagaimanalah? Hanya menggantungkan harapan bahwa kelak beliau, pemilik kos lama kami, dibukakan hatinya untuk mengelola fisik kos jauh lebih baik setelah kami mengosongkannya.

Satu dua penghuni mulai pergi terhitung sejak awal desember lalu. Saya yang sempat berusaha menahan keinginan untuk pindah, mau tidak mau, terpaksa ikut juga. Mungkin karena hati sudah terikat padu, bahkan mencari lingkungan hunian baru pun kami seperti enggan berpencar, harus bersama paling tidak berdua. Walaupun akhirnya ada juga yang terpaksa sendiri. Sebagian memutuskan mencari kos baru, sebagian hendak mencoba hidup sebagai “kontraktor”.

Sepintas, pengosongan kos lama menjadi sebuah titik akhir kebersamaan kami dalam satu atap. Namun bagi saya, semua ini justru menjadi titik awal petualangan kami. Adaptasi, seringkali menjadi salah satu momok bagi sebagian kami. Sudah nyaman dengan lingkungan manusia yang seperti X, tapi takdir Tuhan berkata lain. “Semoga dengan berpisahnya fisik kalian, hati kalian akan semakin didekatkan satu sama lain”, doa ibu ketika saya bercerita duduk perkaranya. Semoga ya…

Kerja, Kerja, Kerja!

Posted: Oktober 29, 2014 in Mozaik Hikmah, Mozaik Rasa

Beberapa hari lalu, akhirnya Presiden baru kita, Pak Jokowi, mengumumkan para partner kerjanya untuk lima tahun ke depan. Kabinet Pak Jokowi cs diberi nama Kabinet Kerja. Banyak yang mengatakan kalau nama kabinet itu sesuai dengan kepribadian Pak Jokowi yang lebih mengedepankan kerja lapangan. Semoga saja mampu bekerja sesuai ekspektasi publik. Saya tidak akan membahas dan mengkritisi soal kabinet baru pemerintah kita. Apalagi memberikan penilaian soal komposisi partner kerja Pak Jokowi yang beberapanya sudah menjadi trending topik di berbagai sosial media. Bagi saya lebih baik melihat kinerja mereka lebih dulu. Soal hal-hal yang banyak diributkan itu, insya Allah bisa kita bantu perbaiki, toh para menteri sebagian besarnya sudah memberikan kontak pribadi mereka. Kita sudah diberi kesempatan untuk menyapa dan berdialog langsung dengan para menteri itu.

Kabinet kerja diumumkan tepat saat saya dan beberapa adik kos juga berhasil menyelesaikan kolam tempat sampah di area depan kos.  Dari segi kekuatan finansial dan sarana, kami memang serba dalam keterbatasan. Berulang kali menyampaikan keluhan kepada pemilik kos soal sampah yang hampir setiap hari “dibombardir” tikus, ditambah dengan bapak tukang sampah yang jarang datang, makin kacau saja kebersihan kos kami. Daripada kami hanya mengeluh saja dibelakang tanpa merealisasikan solusi yang paling mungkin dilaksanakan, lebih baik kami langsung kerja saja. Kami punya dana berapa, media apa yang tersedia, ada waktu luang kapan, kerjakan! Tanpa bekal pengalaman sebagai tukang bangunan, logika teknik sipil nol, ditambah dengan bekal hanya melihat para tukang bangunan mengaduk semen dan pasir, kami realisasikan rencana pembuatan kolam sampah. Butuh waktu seharian, itupun hanya dikerjakan tiga orang, termasuk saya. Tapi alhamdulillah sekarang sampah kos kami lebih bisa dikontrol.

Selesai dengan pembuatan kolam sampah kos, masalah lain datang. Soal manajemen keuangan yang ternyata tidak kalah kacau dengan manajemen APBN Indonesia. Bukan karena ketimpangan proporsi per bagian, tapi lebih pada pelaporan kepada pemilik kos. Si penanggung jawab keuangan kos kami ternyata tidak rutin melaporkan uang listrik bulanan, sampai menunggak 11 bulan. Kami tentu tidak bisa serta merta menyalahkan dia lantaran status kesibukannya sebagai atlit bridge yang sering membawa nama baik almamater. Baiklah daripada semakin tidak keruan, saya ambil alih manajemen keuangan dan menyerahkan kepada salah satu dari kami yang memang saya percaya dan yakin kemampuannya dalam mengelola banyak hal. Bersama kami memeriksa beberapa kejanggalan dalam pembukuan keuangan kos dan memutuskan beberapa hal penting agar kejadian serupa tidak terulang lagi ke depannya. Kami sudah macam anggota BPK dan KPK yang menelusuri transaksi keuangan.

Sejak saat itu, saya belajar banyak hal dari adik-adik kos saya. Tentang menjauhi NATO, tentang tanggung jawab, tentang filosofi kerja. Saya sadar, sebagai yang paling senior dalam hal usia, justru saya lebih banyak mengajarkan NATO kepada mereka. Melontarkan banyak isu dan ide tentang perbaikan kos, tapi begitu hendak direalisasikan, selalu menemui jalan buntu. Ada saja alasan, mulai dari keterbatasan dana dan waktu yang tidak match satu sama lain. Tapi hanya dengan dua orang ini saja, ternyata kami bisa merealisasikan hal-hal yang sebelumnya kami anggap sulit.

Terima kasih adik-adikku…

Cicilan PR Adik Kampus

Posted: September 6, 2014 in Mozaik Rasa

PRnya diminta menyebutkan 10 buku yang berpengaruh dalam hidup. Sederhana memang, tapi tidak sesederhana ketika mulai mendata. Ya secara lah sebagian besar hidup saya tidak banyak dipengaruhi oleh buku, entah fiksi maupun non-fiksi. Lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang terdekat saja. Itupun setelah melalui sekian proses penyaringan (minyak goreng keleees). Ditambah lagi dengan PR dari kulyah yang belum sampai pada derajat 360 alias 100% finished, semakin kompleks pula PR dari adik kampus saya ini. Dia yang dengan kesibukan menyiapkan studi ke negerinya Harry Potter saja harus menyelesaikan PR ini dalam 2 hari 2 malam. Bagaimana dengan saya?

Baiklah, oleh karena malam ini PR kulyah saya sedang kepenthok dengan kebosanan, saya bisa sedikit mencicil PR adik saya ini. Jika adik saya memulai dari buku masa kecilnya, maka saya akan mulai dari masa kulyah. Let’s go!

1. Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. Sebetulnya buku ini merupakan kisah akhir dari Tetralogi Pulau Buru yang terkenal itu. Singkatnya, Bung Pram bercerita tentang peran arsip dalam politik penjajahan yang diibaratkan seperti rumah kaca. Awalnya saya tidak paham kalau buku ini adalah bagian akhir dari tetralogi. Hanya karena ada kosakata “arsip” jadi langsung comot saja. Buku ini kemudian semakin membuka khasanah keilmuan saya tentang kearsipan yang sudah saya peroleh di bangku kulyah diploma dan sarjana. Meski tidak sering dibaca, buku ini cukup membuat saya bersemangat kembali untuk mencari ide-ide untuk tulisan tentang kearsipan.

2. Angel and Demond karya Dan Brown. Awal mula saya berkenalan dengan om Brown. Lagi-lagi, lantaran menyinggung tentang arsip juga. Setelah melahap buku ini, saya mulai blusukan ke beberapa web kearsipan dari beberapa negara, termasuk Vatikan. Kalau ada artikel atau ebook yang bisa didonlot, langsung saja diembat. Bahkan saya sempat me-link-an blog pertama saya dengan beberapa web milik organisasi kearsipan dari berbagai negara.

3. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya ust. Salim A.Fillah. Salah satu dari sekian faktor yang membulatkan tekad saya untuk berhijab dan membenahi diri sebagai muslim. 

Well, untuk sementara tiga buku itu dulu yang bisa saya cicil. 

…to be continued…

Sekedar flashback, memasuki tahun 2014, masyarakat Indonesia tengah bersiap penuh menghadapi pemilihan umum, baik legislatif maupun presiden (dan wakilnya). Tidak hanya di dunia nyata yang diramaikan dengan perang janji lewat baliho dan poster, jejaring sosial juga dipenuhi perang opini. Ada yang jelas menggiring opini untuk memilih si A, B, C dengan menunjukkan beragam informasi dari berbagai sumber. Tidak sedikit juga yang mencoba bijak dengan menyembunyikan keberpihakannya.

Di alam demokrasi, siapa pun memang memiliki hak untuk berpendapat. Sudah banyak diketahui, Indonesia paska orde baru mengalami euforia kebebasan berpendapat. Mereka yang dahulunya dibungkam (paksa), seiring bergulirnya reformasi, semakin banyak yang berani berbicara lantang. Apalagi dengan munculnya jejaring sosial, semakin membuka deras keran opini. Sayangnya, kebebasan mengakses dan menyebarluaskan informasi sebagai penyangga opini, tidak banyak yang disertai dengan proses seleksi. Tidak jarang kita asal berbagi informasi tanpa melihat kejelasan sumber pertamanya. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika penyebaran informasi dengan sumber valid pun digunakan untuk melakukan instabilitas sosial. Aktivitas ini seringkali dilakukan justru oleh kalangan terpelajar yang pandai beropini dengan mengolah informasi yang dapat mereka akses. Beberapa bahkan tega memanipulasi informasi yang mudah diakses publik sehingga menimbulkan bencana sosial, tawuran antar kelompok, kekerasan terhadap infrastruktur milik golongan tertentu, dan sejenisnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijak dan cermat dalam mengelola dan membagi informasi, terutama yang berasal dari lembaga publik dan digunakan secara luas untuk masyarakat.

Dalam menghadapi derasnya semangat keterbukaan informasi, ada banyak negara yang mulai mengatur penggunaan informasi, utamanya informasi yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga publik (milik pemerintah maupun non-pemerintah). Meski terhitung terlambat, Indonesia menerbitkan perundang-undangan tentang informasi secara general pada tahun 2008, diantaranya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dalam undang-undang tentang keterbukaan informasi publik, misalnya, tidak hanya diatur tentang bagaimana publik dapat mengakses informasi publik dan kewajiban badan publik untuk menyediakan informasi dengan cepat, tepat dan sederhana prosesnya. Hal yang juga wajib menjadi perhatian serius adalah perihal informasi-informasi yang dikecualikan. Meski jenis informasi tersebut bersifat ketat dan mendapat porsi yang kecil, namun bukan berarti tidak menjadi penting untuk disimak. Adapun informasi yang dikategorikan sebagai informasi yang dikecualikan dalam undang-undang keterbukaan informasi publik, antara lain:

1. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik  dapat menghambat proses penegakan hukum, yaitu informasi yang dapat:

a.  menghambat proses penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana;

b.  mengungkapkan identitas informan, pelapor, saksi, dan/atau korban yang mengetahui adanya tindak pidana;

c.  mengungkapkan data intelijen kriminal dan rencana-rencana yang berhubungan dengan pencegahan dan penanganan segala bentuk kejahatan transnasional;

d.  membahayakan keselamatan dan kehidupan penegak hukum dan/atau keluarganya; dan/atau

e.  membahayakan keamanan peralatan, sarana, dan/atau prasarana penegak hukum

2. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik  dapat mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual  dan perlindungan   dari persaingan usaha tidak sehat;

3. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat membahayakan pertahanan dan keamanan negara, yaitu:

a. informasi tentang strategi, intelijen, operasi, taktik dan teknik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi dalam kaitan dengan ancaman dari dalam dan luar negeri;

b. dokumen yang memuat tentang strategi, intelijen, operasi, teknik dan taktik yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengakhiran atau evaluasi;

c. jumlah, komposisi, disposisi, atau dislokasi kekuatan dan kemampuan dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan negara serta rencana pengembangannya;

d. gambar dan data tentang situasi dan keadaan pangkalan dan/atau instalasi militer;

e. data perkiraan kemampuan militer dan pertahanan negara lain terbatas pada segala tindakan dan/atau indikasi negara tersebut yang dapat membahayakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan/atau data terkait kerjasama militer dengan negara lain yang disepakati dalam perjanjian tersebut sebagai rahasia atau sangat rahasia;

f.  sistem persandian negara; dan/atau

g. sistem intelijen negara

4. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkapkan kekayaan alam Indonesia;

5. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional:

a.  rencana awal pembelian dan penjualan mata uang nasional atau asing, saham dan aset vital milik negara;

b. rencana awal perubahan nilai tukar, suku bunga, dan model operasi institusi keuangan;

c. rencana awal perubahan suku bunga bank, pinjaman pemerintah, perubahan pajak, tarif, atau pendapatan negara/daerah lainnya;

d.  rencana awal penjualan atau pembelian tanah atau properti;

e. rencana awal investasi asing;

f. proses dan hasil pengawasan perbankan, asuransi, atau lembaga keuangan lainnya; dan/atau

g. hal-hal yang berkaitan dengan proses pencetakan uang.

6. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan kepentingan hubungan luar negeri:

a. posisi, daya tawar dan strategi yang akan dan telah diambil oleh negara dalam hubungannya dengan negosiasi internasional;

b. korespondensi diplomatik antarnegara;

c. sistem komunikasi dan persandian yang dipergunakan dalam menjalankan hubungan internasional; dan/atau

d. perlindungan dan pengamanan infrastruktur strategis Indonesia di luar negeri

7. Informasi Publik yang apabila dibuka dapat mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang

8. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi, yaitu:

a.  riwayat dan kondisi anggota keluarga;

b. riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang;

c. kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang;

d. hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi kemampuan seseorang; dan/atau

e. catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan nonformal

9. memorandum atau surat-surat antar Badan Publik atau intra Badan Publik, yang menurut sifatnya dirahasiakan kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan

10. informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan Undang-Undang

Pengecualian informasi-informasi tersebut ada yang bersifat sementara, ada pula yang bersifat permanen. Informasi yang dikecualikan yang bersifat sementara ada pada point nomor 1 s.d. nomor 6. Publik juga wajib mengetahui informasi apa saja yang wajib disediakan oleh badan publik, yaitu:

a. tidak termasuk informasi yang dikecualikan;

b. hasil keputusan badan publik dan pertimbangannya;

c. seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya;

d. rencana kerja proyek termasuk di dalamnya perkiraan pengeluaran tahunan badan publik;

e. perjanjian badan publik dengan pihak ketiga;

f. informasi dan kebijakan yang disampaikan pejabat publik dalam pertemuan terbuka untuk umum;

g. program kerja pegawai badan publik yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat;

h. laporan mengenai pelayanan akses informasi publik sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Adanya klausa informasi yang dikecualikan seharusnya tidak disikapi secara ekstrem dengan mengeluarkan kebijakan baru seperti isu RUU Rahasia Negara. Hal yang diperlukan adalah bagaimana mendidik publik untuk sadar, bersedia memahami bahwa sharing atau berbagi informasi, sesederhana apapun kontennya, juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Upaya memberikan teladan dari kalangan terdidik menjadi solusi konkret bagaimana seharusnya suatu informasi dibagi, dikelola, dikritisi dengan meminimalisasi dan/atau tanpa membawa bencana sosial.

Aku tidak berharap kalian akan ingat tanggal berapa hari ini. Karna’ aku tahu, sebagian dari kalian amat menghindari pelajaran Sejarah lantaran harus berkutat dengan hafalan tanggal, tahun dan sederet nama tokoh. 🙂

Aku tidak berharap kalian akan ingat hari apa ini. Karna’ aku tahu, seperti juga berjuta-juta manusia yang sudah Tuhan berikan, ia akan datang, mengisi satu atau beberapa episode hidup kalian. Kemudian, atas kehendak-Nya, ia pun harus pergi sementara kalian juga harus berpindah ke episode lain yang sudah Tuhan siapkan. Dalam kurun waktu tertentu, kalian mungkin masih ingat yang pergi, namun dengan berlalunya masa, kalian pun harus belajar mengikhlaskan, kemudian melupakan yang telah pergi. Dengan demikian, kepala yang sudah terarah maju tidak terus-menerus menengok ke belakang. 🙂

Aku tidak berharap kalian akan ingat hari bersejarahku. Karna’ aku tahu, aku bukan deretan tokoh-tokoh penting yang punya kontribusi istimewa bagi dunia. Karyaku pun belum sepenuhnya ada dibandingkan kalian yang sudah melanglang buana hingga seberang pulau. 🙂

Namun, satu yang aku harap dari kalian, saudariku,

Di bumi manapun kalian berpijak

Di waktu kapanpun kalian bernafas

Ingatlah aku dalam setiap sujudmu

Ingatlah aku dalam untaian doa kudusmu

Karna’ aku berharap kita dapat membuat para syuhada dan nabi-nabi Allah Swt. iri tersebab cinta kita karena Allah Swt., tersebab persaudaraan kita yang hanya berharap barokah dan ridhoNya.

Maka, ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kaulimpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya. Maka, ya Allah, walau tak Kaukayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu’nya, yang hormati semut serta burung hud-hud.

Maka, ya Allah, walau tak Kauberi kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa. Maka, ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da’wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikan kebenaran dalam aneka cara.

Maka, ya Allah, walau keajaiban tak selalu menyertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti ‘Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

Maka, ya Allah, walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan. Maka, ya Allah, walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin dan musibah, sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

Maka, ya Allah, walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar dan Sarah; limpahi keluarga kami (kelak) dengan sakinah, mawaddah dan rahmah; dengan keturunan yang shalih serta shalihah. Maka, ya Allah, walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia (kelak) seperti Yahya dan ‘Isa.

Maka, ya Allah, walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa. Maka, ya Allah, walau hidup tak sepedas-pedih sewarna-warni hayat Ya’qub, jadikan kami hanya mengadu pada-Mu semata hingga menampilkan kesabaran cantik yang mencahaya.

Maka, ya Allah, walau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al-Haq di depan tirani. Maka, ya Allah, walaupun kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi hati kami akhlaq pemimpin yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebar manfaat.

Maka, ya Allah, walau jangan sampai Kaukaruniai pasangan yang mirip Fir’aun (kelak), teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisi-Mu di dalam surga. Maka, ya Allah, walau persoalan hidup tak sepelik yang dialami Ibunda Musa, bisikkan selalu kejernihan-Mu di firasat kami saat menghadapi musykilnya hari-hari. Maka, ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al-Hakim; tajamkan pikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.

Maka, ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan, (Ust. Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan)

Maka, saudariku, mohon maafkan atas segala khilaf, cela dan nista dari laku dan lisan di setiap perjumpaan.

Maka, saudariku, singkirkan ragu dan sungkanmu ketika melihat, mendengar dan merasakan adanya kedzaliman yang aku perbuat terhadapmu, ada hak-hakmu yang tak aku penuhi bahkan aku abaikan.

Terima kasih untuk segala bentuk pelajaran, hikmah dan penerimaan

Semoga Allah Swt., Yang Maha Rahman dan Rahiim lagi Maha Berkehendak, memperkenankan kita untuk berkumpul kembali dalam Jannah-Nya yang mulia.

Aamiin…aamiin..amin Ya Rabbal Alamiin…