Archive for the ‘Uncategorized’ Category

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Kabar tidak menyenangkan kembali datang dari dunia dokumentasi nusantara. Beberapa waktu lalu pemberitaan tentang keberadaan manuskrip-manuskrip kuno Keraton Yogyakarta yang banyak disimpan di Inggris menghiasi berbagai surat kabar nasional. Pada 1 Juni lalu, KR memberitakan tentang musnahnya ratusan manuskrip kuno milik Rekso Pustoko Mangkunegaran. Kabar tersebut seharusnya membuat Indonesia semakin prihatin dengan eksistensi manuskrip kuno yang menyimpan ragam tradisi budaya nusantara. Warisan budaya nusantara berupa manuskrip berada diambang kepunahan. Akibat jangka panjangnya adalah generasi muda semakin bimbang memahami budaya khas nusantara. Suatu upaya diperlukan untuk menyelamatkan keberadaan manuskrip-manuskrip kuno tersebut.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (Barpusda) Provinsi Jawa Tengah, merupakan pihak pertama yang seharusnya tanggap melihat fenomena tersebut. Langkah nyata yang dapat dilakukan Barpusda Jateng adalah pengiriman tenaga profesional dan kompeten di bidang preservasi dan konservasi. Barpusda Jateng dapat bersinergi dengan Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI) dalam mempercepat alih media manuskrip yang telah diperbaiki. Selain dengan pihak lokal, Barpusda Jateng dapat berkolaborasi dengan institusi di negara-negara tertentu yang memiliki sarana dan prasarana alih media manuskrip kuno berteknologi mutakhir. Bantuan sarana dan prasarana dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupa komputer juga diperlukan sebagai upaya mempermudah akses manuskrip hasil alih media.

Pasca penyelamatan fisik, upaya pemanfaatan manuskrip kuno juga perlu ditingkatkan. Kalangan akademisi dan budayawan merupakan pengguna potensial dalam meningkatkan nilai guna manuskrip-manuskrip tersebut. Dalam hal ini, upaya Rekso Pustoko untuk bersinergi dengan perguruan-perguruan tinggi dan komunitas-komunitas budaya perlu diwujudkan. Namun pada akhirnya, upaya untuk merangkul publik lebih luas juga perlu diupayakan agar publik mengetahui manfaat dari manuskrip-manuskrip tersebut.

Adanya sinergi antar berbagai pihak tersebut diharapkan mampu menyelamatkan manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersisa, terutama di Rekso Pustoko Mangkunegaran. Bukan pekerjaan mudah, memang. Apalagi jika pihak Keraton Mangkunegaran masih belum memiliki kesadaran urgensi perawatan manuskrip kuno. Ada celetukan menarik dari kolega-kolega sejarawan bahwa manuskrip-manuskrip kuno tersebut disakralkan oleh pihak keraton. Akibatnya, manuskrip-manuskrip tersebut tidak tersentuh tangan dingin preservator. Salah kaprah tersebut seharusnya mampu diminimalisasi apabila para pengampu kebijakan bersedia bermusyawarah untuk meluruskan logika tersebut. Jika dibiarkan, sekitar 25.000an manuskrip lainnya tengah menunggu kepunahan termakan usia dan mitos belaka.

Iklan

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Yogyakarta, di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), merupakan salah satu kota dengan industri wisata potensial di Indonesia. Keunikan budaya tradisional yang dikemas secara modern menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Perkembangan industri wisata yang sedemikian pesat memicu pertumbuhan bisnis penginapan dan industri ritel modern. Yogyakarta, selain memiliki potensi di sektor pariwisata, ternyata memiliki banyak industri lokal yang sempat berjaya di masanya. Ragam industri lokal di Yogyakarta tersebut menjadi suguhan utama dalam Pameran Arsip 2016 yang diselenggarakan oleh Prodi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM pada 13-15 Mei lalu. Pameran yang bertajuk “Menyingkap Arsip Industri di Yogyakarta” mengenalkan beberapa sektor industri lokal unggulan Yogyakarta, seperti industri logam/besi, industry kulit, industry batik, industry cerutu, dan industry gula.

Suguhan pameran arsip bertemakan industry merupakan salah satu upaya nyata bidang kearsipan untuk memberikan fondasi kebijakan pengembangan sektor industry daerah. Era MEA memang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menggeber produk-produk asli unggulan. Produk-produk asli Indonesia dominan digarap oleh para pelaku industry lokal yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Yogyakarta. Keberadaan para pelaku lokal tersebut, sayangnya, kerap tergeser perannya oleh pelaku industry yang memiliki modal besar dan jaringannya yang luas. Belum lagi dengan regulasi daerah yang sering menyulitkan industry-industri lokal untuk go internasional. Sajian arsip-arsip industry lokal di Yogyakarta diharapkan mampu membantu para pemangku kepentingan untuk dapat membangkitkan kejayaan industry-industri lokal yang pernah menjadi ikon Yogyakarta. Selain itu, arsip-arsip industry tersebut juga menjadi media efektif bagi investor, terutama investor asing, untuk dapat mengenal lebih dekat daerah tujuan investasinya. Pengenalan daerah investasi secara komprehensif juga dapat mengurangi dampak gesekan sosial dengan masyarakat setempat. Dengan demikian, para investor mampu berperan aktif dan bersinergi dengan masyarakat lokal dalam menumbuhkan pundi-pundi ekonomi yang saling menguntungkan.

Arsip sektor industry tak sekedar berbicara dinamika di satu sektor, tetapi pengaruh keberadaan suatu industry lokal terhadap sektor lain. Prof. Aiko Kurasawa dalam Masyarakat dan Perang Asia Timur Raya: Sejarah dengan Foto yang Tak Terceritakan juga berkisah tentang beberapa industry yang menjadi pendukung Jepang dalam menginvasi beberapa negara di Asia jelang Perang Dunia II. Keberadaan industry cetak, Ashashi Shinbun misalnya, menjadi modal utama Jepang untuk menyebarkan propagandanya melalui surat kabar. Beberapa industry otomotif pun ikut serta dilibatkan. Tentu saja industry-industri tersebut merupakan industry lokal Jepang yang kelak menjadi industry raksasa dengan pangsa pasar global. Secara garis besar, informasi yang terekam dalam arsip industry-industri tersebut juga mencerminkan kondisi sosial politik pada masa Perang Asia Timur Raya. Dapat disimpulkan bahwa arsip merupakan modal utama dalam membangkitkan industry-industri lokal. Kebangkitan industry-industri lokal menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia siap menghadapi berbagai perubahan global dan siap menjadi salah satu negara tangguh di era MEA.

*Tulisan lawas yang baru sempat diposting 🙂

Euforia fenomena langka gerhana matahari mulai meredup. Fenomena alam tersebut meninggalkan jejak dalam berbagai rupa. Jejak gerhana dalam berbagai rupa tersebut direkam dalam berbagai media untuk kemudian diarsipkan. Salah satu media massa nasional memberitakan bahwa rekam jejak gerhana di nusantara masih terbilang langka. Dalam sebuah liputan menyebutkan bahwa catatan fenomena gerhana di nusantara yang berhasil ditemukan berupa arca. Adapun rekam jejak berupa naskah tertulis atau manuskrip hampir dikatakan belum berhasil dilacak. Selain minimnya rekam jejak gerhana, catatan penafsiran mengenai media rekam tersebut pun masih terbilang sedikit. Maka menjadi wajar apabila fenomena gerhana di Indonesia lebih didominasi penafsiran mitos dibandingkan hasil nalar ilmiah.

Pelacakan jejak gerhana dalam konteks nalar ilmiah dapat dimulai dari karya penelitian dan/atau pengamatan fenomena gerhana. Hasil penelitian fenomena gerhana umum disimpan oleh organisasi atau komunitas yang bergerak di bidang astronomi, misalnya LAPAN dan NASA. Karya penelitian merupakan aset vital yang wajib dikelola sesuai standar pengelolaan dokumen penelitian, baik nasional maupun internasional. Peter Doorn dan Heiko Tjaisma dalam Introduction: Archiving Research Data menekankan bahwa pengelolaan karya penelitian harus dibedakan dengan jenis dokumen lainnya. Hal ini karena karya penelitian tidak hanya menjadi sumber rujukan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi memiliki kekuatan hak paten. Pengelolaan dokumen karya penelitian sesuai standar menjadi salah satu upaya memerangi kegiatan plagiasi di dunia akademik.

Untuk memudahkan pengelolaan dokumen karya penelitian, beberapa organisasi menerapkan sistem otomasi atau komputerisasi pengelolaan dokumen. Upaya tersebut juga sebagai jawaban terhadap tuntutan kemudahan akses dan diseminasi karya tanpa perlu datang ke lokasi penyimpanan dokumen. Komputerisasi pun bukan tanpa masalah. Seamus Ross menekankan tiga hal yang perlu diwaspadai dalam komputerisasi, yaitu aspek legalitas, perlindungan keamanan data, dan perlindungan hak paten. Ketiga hal tersebut pun masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia yang memiliki angka plagiasi cukup tinggi. Selain itu, komputerisasi dalam bidang dokumentasi kerap hanya dijadikan sebagai agenda proyek minim tindak lanjut. Para pengelola dokumen karya penelitian hanya berhenti pada kegiatan penyimpanan dan diseminasi formal (katalog dan kanon). Padahal diseminasi formal seringkali tidak banyak membantu tersampaikannya makna karya penelitian kepada publik secara luas. Kebutuhan untuk mempopulerkan bahasa karya penelitian pun menjadi tanggung jawab bersama, termasuk para pengelola dokumen karya penelitian.

Pengelolaan dokumen karya penelitian sesuai standar merupakan upaya nyata memberikan kekuatan pelacakan jejak gerhana berbasis nalar ilmiah. Setelah dilacak, karya penelitian pun wajib didiseminasikan dengan bahasa populer. Kedua upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat penelitian di Indonesia yang dinilai masih rendah. Juga membantu publik untuk memahami fenomena-fenomena alam tidak hanya berdasarkan mitos, tetapi berbasis nalar ilmiah.

Bulan Maret selalu identik dengan dua peristiwa yang menandai babak baru dalam sejarah Indonesia. Pertama, peringatan 1 Maret atau Serangan Umum 1 Maret. Peristiwa bersejarah yang oleh Orde Baru dikemas dalam karya seni berupa film “Janur Kuning”. Kedua, pada tanggal 11 Maret terkait dengan peristiwa munculnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Sebuah surat perintah yang menandai peralihan zaman, dari Orde Lama kepada Orde Baru. Surat perintah yang, dalam historiografi Orde Baru, diawali suatu kudeta berdarah oleh PKI pada tahun 1965. Untuk memperingati peristiwa tersebut, pemerintah Orde Baru pun menelurkan buah karya seni film “Pengkhianatan G 30 S PKI”. Seni, dari kedua peristiwa bersejarah tersebut, dimanfaatkan oleh pemerintah Orde Baru untuk memperkuat penulisan sejarah versinya sendiri. Dua karya seni berupa film tersebut, meski telah diarsipkan, juga menjadi sumber kekuatan bagi historiografi seni kontemporer.
Historiografi seni merupakan sesuatu hal yang belum banyak menjadi diskursus, bahkan di kalangan akademisi sejarah maupun kesenian. Secara sederhana, mengutip Prof. Agus Burhan, fungsi historiografi seni adalah sebagai pergulatan identitas keindonesiaan, instrument penerus nilai dan pengetahuan, dan legitimasi pencapaian seniman serta para patronnya. Sumber-sumber penulisan sejarah seni yang melimpah belum mampu menggairahkan akademisi untuk mengulik historiografi seni kontemporer. Permasalahan tersebut sejatinya juga menjadi pekerjaan rumah bagi akademisi kearsipan. Fokus utamanya adalah pada pelestarian dan diseminasi inventarisasi arsip karya seni secara apik dan menarik.
Karya seni sebagai arsip merupakan sesuatu yang belum banyak dipahami oleh akademisi dan praktisi kearsipan Indonesia. Sebagian besar akademisi dan praktisi kearsipan konservatif mengkategorikan karya seni hanya sebatas koleksi museum dan galeri seni. Karya seni tidak dapat dikatakan sebagai arsip, baik karya lukis, tari, film, dan sebagainya. Padahal, karya seni sebagai arsip telah lama menjadi diskursus bidang kearsipan Internasional. John Shepard, dalam sebuah artikel yang dimuat Fontes Artis Musicae pada tahun 2011 berjudul “Preserve: Teaching Archives To Dance Companies”, memaparkan urgensi pelestarian arsip seni dansa Amerika Serikat. Proyek pelestarian arsip seni dansa tersebut dilatar belakangi oleh minimnya dokumentasi sebagai instrument penerus pengetahuan mengenai seni dansa Amerika Serikat. Filip van Dingenen, seniman visual dalam artikel berjudul “Flota Nfumu: Rethinking Art, Archives, and Pedagogy in the Case of Copito de Nieve” memberikan gambaran bagaimana arsip lukisan anak-anak dari dua negara berbeda tentang gorila langka menjadi instrument pengajaran di sekolah-sekolah.

Pelestarian dan pemanfaatan arsip karya seni sejatinya telah dilakukan di Indonesia oleh komunitas-komunitas seni dan beberapa seniman. Kerja-kerja pengarsipan yang dilakukan komunitas seni maupun seniman sebagai individu, salah satunya didokumentasikan dalam buku “Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia”. Buku tersebut menjadi karya pertama yang membedah kearsipan dari sudut pandang yang jauh berbeda dari konsep konservatif yang selama ini dipahami. Hal yang menarik dari review buku tersebut adalah kelangkaan fisik arsip di bidang seni tari, musik, dan film. Dampaknya, banyak akademisi yang kesulitan mencari sumber pendukung dalam kerja-kerja ilmiah terkait bidang seni tersebut, termasuk pembuatan historiografi seni kontemporer. Permasalahan sama yang juga ditegaskan oleh Prof. Agus Burhan dalam pidato pengukuhan guru besar pada bulan Februari lalu. Arsipalego juga memuat beberapa kisah pelestarian arsip karya seni yang kerap mendapat masalah sokongan finansial. Pemahaman sempit ala Orde baru bahwa arsip adalah naskah, produk samping administrasi, dan hanya dikelola oleh lembaga kearsipan milik pemerintah masih mengakar kuat. Imbasnya, upaya pelestarian arsip yang dilakukan dalam skala komunitas maupun individu tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan upaya sungguh-sungguh dalam menata ulang pemahaman mengenai arsip. Harapannya, arsip karya seni mampu menjadi sumber kekuatan para sejarawan seni Indonesia ketika bercerita tentang kerja-kerja seni kontemporer anak bangsa di kancah internasional.

Muatan 2

Posted: Februari 27, 2016 in Uncategorized

IMG-20160203-WA0000

Muatan 1

Posted: Februari 27, 2016 in Uncategorized

IMG-20160226-WA0002

Jamak diketahui jika kita berbicara tentang arsip dan kearsipan, maka pandangan kita akan mengerucut pada arsip pemerintahan dan/atau perusahaan. Arsip = surat, adalah mainstream yang melekat kuat hingga saat ini. Namun ketika disebutkan arsip lukisan, diary, genealogi, imigrasi, tidak sedikit dari kita, yang pernah bersentuhan dengan kearsipan, yang mengerutkan dahi, apa iya semua itu disebut arsip? Apakah arsip hanya ada di lingkungan pemerintahan dan perusahaan? Pemahaman ini yang coba diperluas oleh Prodi Kearsipan dengan mendatangkan sejarawan dari Belanda dalam sebuah kuliah umum.

Secara singkat dapat saya jelaskan bahwa arsip tidak hanya ada di lingkungan pe

Jpeg

Mrs. Maaike dalam pemaparannya.

merintahan dan perusahaan, tetapi juga di tingkat yayasan,organisasi kemasyarakatan atau ormas, sampai pada komunitas dan individu. Definisi arsip dalam perundang-undangan pun menyebutkan dengan gamblang bahwa arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Maka jelaslah bahwa arsip tidak seharusnya dipahami dan dipelajari secara menyempit hanya di tataran pemerintahan dan perusahaan, tetapi juga mereka yang ada di skup yayasan, ormas, dan lain-lain. Menurut Maaike, narasumber yang diundang, arsip-arsip yang ia teliti sebagai sumber primer dalam riset PhDnya, belum banyak ditangani secara profesional. Perlu diketahui bahwa arsip-arsip yang diteliti oleh Maaike adalah arsip-arsip keagamaan pada masa kolonial Belanda, yang banyak disimpan di gereja-gereja yang tersebar di Jawa Tengah dan DIY. Hal inilah yang seharusnya menjadi suatu pandangan baru bagi calon-calon ahli madya kearsipan dan pemerhati arsip untuk menggali dan memahami lebih dalam tentang arsip-arsip privat, salah satunya arsip keagamaan, dalam konteks manajemen kearsipan. Pengalaman yang disampaikan Maaike juga mengingatkan saya terkait pengalaman pribadi menemani tim akuisisi ANRI yang hendak mengakuisisi arsip-arsip milik ormas Muhammadiyah, sekitar satu tahun lalu. Diakui oleh Maaike bahwa akses untuk arsip-arsip private milik yayasan memang terbilang sulit, apalagi ditambah dengan akses arsip kolonial di lembaga kearsipan nasional, baik di Belanda maupun Indonesia yang terbilang berbelit-belit. Oleh karena itu, apabila arsip-arsip privat yang bernilai kesejarahan dan masih disimpan oleh yayasan, ormas, maupun komunitas, dapat dikelola dengan profesional, bukan tidak mungkin akan melahirkan informasi-informasi menarik yang belum banyak diketahui oleh publik. Selain juga menambah variasi penulisan sejarah kolonial dari perspektif yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya.

Penggalian arsip-arsip privat dalam konteks manajemen kearsipan, dalam pengamatan pribadi saat melihat daftar tugas akhir mahasiswa, memang belum banyak diminati. Semoga dengan adanya kuliah umum ini akan menjadi pemantik bagi teman-teman mahasiswa, terutama mahasiswa kearsipan, untuk mempelajari dan menggali manajemen kearsipan untuk arsip-arsip privat, utamanya di yayasan maupun organisasi kemasyarakatan. Hal ini juga mengingat semakin menjamurnya yayasan, komunitas, dan sejenisnya yang mulai mengambil peran-peran sejarah dalam memperbaiki kondisi masyarakat. Perlu kiranya untuk mengetahui perkembangan dan peran organisasi-organisasi tersebut, dan sumber yang mampu menjawabnya, salah satunya adalah arsip.

Semoga yang sedikit ini dapat memberikan gambaran singkat terkait kuliah umum yang diselenggarakan oleh Prodi D3 Kearsipan Sekolah Vokasi UGM.